Lobi dan Negosiasi
Lobi adalah suatu upaya pendekatan yang dilakukan untuk mempengaruhi dengan tujuan
kepentingan tertentu.. Pada tahap lobi, pelobi tidak memutuskan.
Lobi dilakukan dengan cara baik ataupun kini dengan cara tidak baik
Negosiasi adalah sebuah proses yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang pada mulanya memiliki pemikiran yang berbeda hingga pada akhirnya mencapai kesepakatan bersama. Negosiasi bisa terjadi karena adanya konflik dan lobbying ada didalamnya untuk mengurangi konflik..
Fungsi Lobi:
– Lobi sebagai pembuka jalan bernegosiasi, kalau ada respon
– Mempengaruhi pengambilan keputusan
Tujuan Negosiasi:
– Untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi,
saling pengertian dan persetujuan
– Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah
yang dihadapi bersama
Struktur Negosiasi Umum
Negosiator ,Pembuka , isi , penutup
Prinnsip-Prinsip Negosiasi
T O R I
- T : trust (percaya)
- O : opennes(terbuka)
- R : responsible
- I : interdependency (saling ketergantungan antara satu dengan yang lain)
Kuadran Negosiasi
|
Tipe
|
Pihak 1
|
Pihak 2
|
Hasil
|
|
Kolaborasi
|
Menang
|
Menang
|
Win Win
|
|
Dominasi
|
Menang
|
Kalah
|
Win Lose
|
|
Akomodasi
|
Kalah
|
Menang
|
Lose Win
|
|
Kompromi
|
Kalah
|
Kalah
|
Lose Lose
|
KONFLIK
- Pandangan Kaum tradisional ,konflik adalah buruk dan karenanya harus dihindari
-Pandangan Kaum human relations , konflik adalah gejala biasa alias alamiah dan
tidak dapat dihindari dari setiap kelompok
-Pandangan Kaum interaksionist , konflik tidak saja memiliki kekuatan positif di dalam kelompok ,
tetapi merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh kelompok agar dapet menunjukan kinerja
yang efektif
KONFLIK FUNGSIONAL V.S KONFLIK DISFUNGSIONAL
- Konflik fungsional : konflik yang menunjang tujuan tujuan kelompok/individu
- Konflik disfungsional : konflik yang menghambat/mengganggu kinerja individu/kelompok.
1.Tahap I, Konflik terpendam.
Konflik ini merupakan bibit konflik yang bisa terjadi dalam interaksi
individu ataupun kelompok dalam organisasi, oleh karena set up organisasi dan perbedaan konsepsi, namun masih dibawah permukaan. Konflik ini berpotensi untuk sewaktu-waktu muncul ke permukaan.
2. Tahap II, Konflik yang terpersepsi.
Fase ini dimulai ketika para actor yg terlibat mulai
mengkonsepsi situasi-situasi konflik termasuk cara mereka memandang, menentukan pentingnya isu-isu, membuat asumsi-asumsi terhadap motif-motif dan posisi kelompok lawan.
3. Tahap III, Konflik yang terasa.
Fase ini dimulai ketika para individu atau kelompok yang terlibat menyadari konflik dan merasakan penglaman-pengalaman yang bersifat emosi, seperti kemarahan, frustasi, ketakutan, dan kegelisahan
yang melukai perasaan.
4. Tahap IV, Konflik yang termanifestasi.
Pada fase ini salah satu pihak memutuskan bereaksi
menghadapi kelompok dan sama-sama mencoba saling menyakiti dan menggagalkan tujuan lawan.
Misalnya agresi terbuka, demonstrasi, sabotase, pemecatan, pemogokan dan sebagainya.
5. Tahap V, Konflik sesudah penyelesaian. Fase ini adalah fase sesudah konflik diolah.
Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik hasilnya berpengaruh baik pada organisasi (fungsional)
atau sebaliknya (disfungsional).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar