Produksi
Media cetak & Kit
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers.
Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah
seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam
arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan
majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk
media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita
(news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa
tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun
hiburan. Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan dalam kajian
tentang pers. Pertama, pendekatan etika atas eksistensi institusi pers dan prilaku
pelaku profesional pers (jurnalis). Kedua, pendekatan ilmu sosial atas
eksistensi institusi pers. Ketiga, pendekatan praktis atas kerja teknis pelaku
profesional pers dalam institusi pers.
Titik tolak kajian tulisan ini melihat fenomena pers sebagai institusi
sosial yang menjadi bagian dari komunikasi massa. Bukan semata-mata berdasarkan
pendekatan praktis dan kerja teknis dalam konteks jurnalisme
Teguh Kresno Utomo, S.IP
I Introduksi
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa media cetak
termasuk pers dalam pengertian sempit. Artinya, media cetak adalah bagian dari
media komunikasi massa. Untuk itu perlu dikaji dulu definisi komunikasi massa
(mass communication) untuk membedakannya dengan jenis komunikasi lainnya
seperti komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication) atau komunikasi
interpersonal (interpersonal communication). Secara singkat komunikasi massa
dimaknai sebagai berikut: “mass communication is a process in which
professional communicator use media to disseminate messages widely, rapidly,
and continually to arouse intended meanings in large and diverse audiences in
attempts to influence them in a variety of ways” (DeFleur, 1985).
Pers dilihat sebagai fenomena sosial dengan karakteristiknya
yang khas sebagai institusi sosial. Dengan demikian peta kajiannya dapat
diuraikan sebagai berikut: sistem sosial, institusi sosial, institusi media
massa, institusi pers dan jurnalisme. Institusi pers menjalankan fungsinya
dengan menyampaikan informasi. Nilai informasi ini dapat dilihat dalam kaitannya
dengan eksistensinya dalam sistem sosial. Untuk itu institusi pers dapat
menjalankan fungsi politik, ekonomi atau sosio-kultural.
Tulisan ini hanya membahas tiga pokok bahasan: Pertama, memaparkan media cetak dalam perspektif historis. Kedua, Mendiskusikan perbedaan media cetak sebagi institusi sosial dengan media cetak sebagai jurnalisme. Di sini dibicarakan konsep dasar berita; teknik mencari berita; perbedaan fakta dengan opini; aliran jurnalisme. Ketiga, memperkenalkan institusi dan manajemen media cetak yang meliputi manajemen media cetak; zona pasar media cetak; format media cetak; struktur organisasi media cetak; proses media cetak.
Tulisan ini hanya membahas tiga pokok bahasan: Pertama, memaparkan media cetak dalam perspektif historis. Kedua, Mendiskusikan perbedaan media cetak sebagi institusi sosial dengan media cetak sebagai jurnalisme. Di sini dibicarakan konsep dasar berita; teknik mencari berita; perbedaan fakta dengan opini; aliran jurnalisme. Ketiga, memperkenalkan institusi dan manajemen media cetak yang meliputi manajemen media cetak; zona pasar media cetak; format media cetak; struktur organisasi media cetak; proses media cetak.
II. Media Cetak dalam Perspektif Historis
Dari berbagai literatur yang menitikberatkan pada content
media cetak disebutkan bahwa cikal-bakal media cetak bermula pada acta duirna
yaitu semacam lembaran yang ditempel pada zaman Romawi kuno. Lembaran ini
memuat hal-hal yang dibicarakan dalam senat yang akan disampaikan pada warga
kota. Tetapi literatur lainnya yang memusatkan perhatian pada teknologi yang
dipakai menyebutkan bahwa media ini sudah ada di China kuno sebelum kertas dan
alat cetak dikenal bangsa Eropa.
III. Media Cetak sebagai Institusi Sosial dan Jurnalisme
Pers atau press (Inggris) dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal selama ini berasal dari Bahasa Belanda. Ini berarti menyiarkan berita dari barang cetakan. Sebagai mana yang telah diulas panjang lebar sebelumnya, secara singkat pembicaraan tentang pers mencakup dua pengertian. Pertama, pers sebagai institusi sosial yang berfungsi sebagai watch dog of the press bagi institusi lainnya seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif. Di sinilah manifestasi pers sebagai the fourth estate dalam sistem sosial. Masalahnya, pers tidak bisa disebut sebagai institusi sosial apabila produk jurnalistik yang dihasilkannya tidak bermakna secara sosial.
A. Konsep Dasar Berita
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita. Tetapi tidak semua realitas sosial itu lantas serta-merta bisa dijadikan berita. Di sinilah diskursus tentang nilai berita (news worthy) dimulai. Ada anekdot yang mengatakan: “jika ada orang digigit anjing itu bukan berita, tetapi jika ada orang menggigit anjing itu baru berita”.
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita. Tetapi tidak semua realitas sosial itu lantas serta-merta bisa dijadikan berita. Di sinilah diskursus tentang nilai berita (news worthy) dimulai. Ada anekdot yang mengatakan: “jika ada orang digigit anjing itu bukan berita, tetapi jika ada orang menggigit anjing itu baru berita”.
B. Teknik Mencari Berita
Pertama, secara umum: (1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation); (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview); (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat; (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis.
Pertama, secara umum: (1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation); (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview); (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat; (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis.
C. Perbedaan Fakta dengan Opini
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya. Kedua, fakta kedua: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya, tetapi tidak utuh.
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya. Kedua, fakta kedua: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya, tetapi tidak utuh.
Sementara opini diartikan sebagai penilaian moral jurnalis
atau orang lain terhadap suatu peristiwa. Masalahnya, dalam kinerja jurnalistik
sangat mustahil meniadakan sama sekali opini ini. Artinya, ketika redaktur
menyeleksi hasil reportase sampai proses editing maka sesungguhnya ia telah
beropini dalam kerjanya
D. Aliran Jurnalisme
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan. Sebagai ilustrasi terbongkarnya kasus Watergate oleh dua orang jurnalis Washington Post: Bob Woodward dan Carl Bernstein tahun 1972 yang melibatkan Presiden AS Richard Nixon yang akhirnya jatuh dari kursi kekuasaan. Ini menghasilkan penghargaan atas karya jurnalistik tertinggi di AS Pulitzer bagi kedua jurnalis tersebut.
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan. Sebagai ilustrasi terbongkarnya kasus Watergate oleh dua orang jurnalis Washington Post: Bob Woodward dan Carl Bernstein tahun 1972 yang melibatkan Presiden AS Richard Nixon yang akhirnya jatuh dari kursi kekuasaan. Ini menghasilkan penghargaan atas karya jurnalistik tertinggi di AS Pulitzer bagi kedua jurnalis tersebut.
.SELESAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar